8 November 2020 menjadi hari berkabung bagi pembuat film di Afghanistan, Pemerintah Afghanistan telah memutuskan untuk menghancurkan Cinema Park, sebuah bioskop di Kabul yang sarat nilai sejarah dan selama lima puluh tahun telah menjadi rumah dan oase bagi pembuat film di Afghanistan dan Kabul khususnya. Duka belum usai setelah beberapa hari sebelumnya bom diledakkan dan tembakan brutal terjadi di universitas terbesar di Afghanistan, Universitas Kabul dan menewaskan 22 orang. Taliban telah mengkonfirmasi bahwa mereka bertanggungjawab akan ledakan hebat itu. Mendung tebal dan gelap seakan tak henti memayungi Afghanistan. Pengeboman hampir terjadi setiap hari di berbagai penjuru Afghanistan. Tak heran, penduduknya banyak yang keluar dari Afghanistan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan Indonesia menjadi salah satu negara yang “dimampiri” oleh pengungsi Afghanistan terbanyak.

Konflik tak berkesudahan karena invasi Taliban yang memporak porandakan kehidupan Afghanistan sejak 1994 seakan tak cukup. Pemerintah kini seakan ikut menjadi diktator, menjadi penghancur harapan-harapan penduduknya. Termasuk menghancurkan rumah para pembuat filmnya. Para pembuat film Afghanistan sejatinya telah lama hidup di tengah badai konflik tak berkesudahan. Salah seorang teman saya pernah berkata “jika kamu keluar rumah, kamu tidak akan pernah tahu, apakah kamu akan kembali atau tidak”. Betapa dalam tiap detik, mereka bertaruh nyawa. Film-film yang lahir dari Afghanistan adalah film-film yang sarat akan isu-isu hak asasi manusia, kekerasan dan dampak dari kediktatoran Taliban atau ketidakberesan kehidupan manusianya akibat pemerintah yang korup.

Saya tidaklah sangat fasih akan sinema Afghanistan, tetapi film-film dari negeri ini menggelitik saya. Pertama kali mendapatkan kesempatan menonton film Afghanistan dalam jumlah banyak (puluhan) dalam satu waktu adalah ketika saya mendapatkan kesempatan menjadi tim seleksi film untuk sebuah film festival di Pakistan. Cerita-cerita yang dihadirkan banyak yang menyayat hati. Filmnya rata-rata adalah film naratif yang dikerjakan dengan baik, artinya dari segi teknis maupun konten cerita. Saya sedikit iri, film-film tersebut lahir dari negara yang pembuat filmnya harus siap kehilangan nyawa kapanpun. 

Film-filmnya bercerita tentang kehilangan akibat penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan yang Taliban lakukan terhadap anggota mereka. Kisah tentang kemiskinan akibat pemerintah yang korup, kisah pencarian jati diri, kisah bahayanya melakukan perjalanan yang bahkan untuk menjenguk keluarga pun harus bertaruh nyawa karena pemberontak ada di mana-mana. Tentu akan menarik untuk mendapatkan pencerahan tentang bagaimana sebenarnya kondisi sinema di Afghanistan dengan kondisi yang telah saya paparkan di atas. Oleh karena itu saya menawarkan untuk mari kita menengok film-film Afghanistan yang mungkin selama ini jarang kita bicarakan atau bahkan tidak terlintas sama sekali untuk kita bicarakan, karena hanya untuk menyebut “Afghanistan” saja kita sudah gugup akibat terlalu banyaknya berita buruk tentangnya.

Kevin Smet, seorang peneliti konflik politik dan Timur Tengah dari Vrije University menyatakan bahwa saat ini perhatian terhadap konflik semakin meningkat, suara filmmakers dari wilayah konflik saat ini makin didengar, traumatis dan pengalaman masa lalu dapat menghasilkan sebuah film yang impressive.

East Cinema akan menghadirkan Jalal Rohani, salah satu sutradara muda (lahir 1989) Afghanistan yang telah membuat 6 film pendek dan film panjangnya sedang dalam proses editing, berjudul The One hundred years independence of Afghanistan. Ketiga film Jalal yang akan kita saksikan adalah: Water, The Lady With Purple Shoes dan Elephantbird. Ketiga film ini menyuguhkan tokoh utama lintas usia. Water mengambil tokoh utama seorang anak dengan kisah kemiskinan sebagai latar belakangnya, film kedua, The Lady With Purple Shoes, tokoh utamanya adalah seorang perempuan muda yang berhasrat ingin berhubungan seksual, dan tokoh utama dalam Elephantbird adalah seorang lelaki tua yang melakukan perjalanan untuk menemui keluarganya. 

Film-film ini akan mengantarkan kita pada diskusi tentang perjalanan Jalal dalam membuat film di Afghanistan dan bagaimana perkembangan sinema Afghanistan sendiri saat ini.

 

Sofia Setyorini

Founder and programmer of East Cinema

 

Sumber:

Smets, Kevin. 2015. Cinemas of Conflict: A Framework of Cinematic Engagement With Violent        

Conflict, Illustrated With Kurdish Cinema. International Journal of Communication, 2434–2455

 

Sheeva, Mohammad Arif. 2020. Sahraa Karimi ‘Sorry’ for Demolition of Cinema Park, Unable to Change Govt