Margaret Mead ditanya seorang muridnya, kapankah sebuah peradaban lahir? Murid itu terkejut ketika Mead menjawab, kurang lebih, ketika sebuah tulang femur berusia 1.500 tahun patah dan sembuh.

Mead adalah antropolog terkemuka dan salah seorang pelopor di bidang itu. Alih-alih menjawab bahwa peradaban dimulai ketika manusia pertama kali mencipta pot atau perkakas hidup lainnya, ia merujuk pada penemuan arkeologis sebuah tulang femur (tulang paling panjang pada manusia) yang patah dan sembuh. Dalam dunia binatang, kata Mead, tulang kaki patah sama dengan kematian. Binatang yang kakinya patah akan jadi mangsa predator, ia akan ditinggalkan oleh kawanannya.

Tulang femur adalah tulang terpanjang yang menghubungkan pinggul dengan lutut. Tulang femur patah butuh waktu enam minggu untuk sembuh. Tulang femur patah yang sembuh menunjukkan bahwa ada orang lain yang menemani si kaki patah, merawat, menjaga si kaki patah agar tak jadi mangsa predator. Tulang femur patah yang sembuh adalah tanda bahwa ada orang lain yang tak meninggalkan si tulang patah untuk jadi mangsa binatang di alam liar.

Menolong orang lain saat kesulitan, adalah saat sebuah peradaban lahir, begitu kata Mead. Pandemi, pagebluk global, memberi kita peluang untuk menemukan kembali (rediscovering) nilai-nilai keadaban dan dasar peradaban itu. Memulihkan tubuh, memulihkan jiwa, bersama-sama. Memerhatikan orang lain, di sekitar kita, atau di layar gawai kita, lalu saling menjaga. Di tengah begitu banyak kecemasan, kematian, dan kehilangan, kita menemukan pemulihan dan pelipur duka jiwa dalam doa dan seni.

Mungkin saja kematian memang semakin akrab[*]. Tapi, dalam kepungan kehilangan-kehilangan ini, kita bercakap dengan sesama manusia, menatap layar gawai, menjalin komunikasi, dan menikmati karya-karya seni. Lalu, kita menemukan kembali sebuah pepatah Latin kuno: Vita Brevis, Ars Longa. “Hidup Itu Pendek, Seni Itu Panjang”.

Seni, dalam arti demikian, mampu memanjangkan makna hidup kita yang sesungguhnya pendek di dalam sejarah peradaban ini.***

[*] Meminjam kalimat terkenal dari sebuah sajak Subagio Sastrowardoyo dalam buku Dan Kematian Semakin Akrab, Gramedia, 1995. 

 

Hikmat Darmawan

Dewan Festival

Madani Film Festival