Festival Film Madani kali ini begitu istimewa. Situasi global terkait pandemi Covid-19 membuat semua hal melakukan penyesuaian, termasuk juga festival film. Dunia sekarang pun menerapkan segala hal yang bersifat normal baru, yang terkait normal baru dan kebiasaan baru. Dalam istilah fiqih, norma baru, bagi saya, bisa juga disetarakan dengan “ma’ruf”, hal-hal baik yang sudah dikenal secara umum kalau hal-hal itu baik. Tentu saja sulit untuk beradaptasi dengan norma baru, dengan ma’ruf baru. Termasuk festival film “rasa daring”. Tetapi pendekatan healtheconomics mesti diterapkan, dan pemutaran online pun menjadi pilihan banyak festival film, termasuk kami. Untuk tema besarnya pun, Re(dis)covery, sengaja dirancang supaya kita semua bisa melihat bagaimana dunia, termasuk dunia yang terekam dalam semesta reka-percaya film, melakukan recovery, discovery, dan rediscovery.

Terkait penemuan ulang, rediscovery, salah satu program penting tahun ini adalah “penemuan kembali” film-film Rhoma Irama. Menurut seorang sutradara terkenal, salah satu ciri film bagus adalah, kita seperti terasa menonton film baru saat menonton yang kedua kalinya. Hal ini, bagi saya, karena kita bisa menemukan makna dan penafsiran baru dalam film yang sama itu. Diharapkan penonton bisa menemukan bingkai makna dan tafsir baru saat menonton (lagi) film-film dari Sang Raja Dangdut.

Pemilihan program Rhoma Irama ini juga menjadi penegasan posisi politik selera kami: Bahwa Festival Film Madani ini tidak mendikotomi film komersil vs film art-house. Pendekatan kami adalah: seberapa penting sebuah film bagi penontonnya; dalam konteks ini adalah terkait dengan visi misi kami, yaitu representasi dari living islam, muslimness, dan ke-madani-an. Singkat kata: seberapa madani film-film ini untuk ditelaah dan dinikmati. Hal ini juga tercermin dengan pilihan dari film-film di program lain, yang bisa dieksplorasi di kanal khusus di Kwikku. Kami hendak merayakan keberagaman dunia Muslim, termasuk dari berbagai genre dan gaya.

Kali ini, seperti tahun 2018 dan 2019, kami mengajak Anda semua ke berbagai belahan negeri Muslim. Dari negeri yang penuh konflik seperti Afghanistan hingga muslim minoritas di Thailand. Semoga bisa membuat kita untuk mengenal (kembali) wilayah-wilayah yang ada dalam sinema yang disajikan di menu kali ini.

Dan tentu saja, festival ini dirancang untuk semua orang, tidak hanya untuk kaum Muslim. Karena kami yakin, nilai-nilai madani dan keislaman adalah juga nilai-nilai kemanusiaan yang bisa dinikmati (dan dihikmati) siapa saja dan tidak seharusnya diklaim oleh suatu kelompok tertentu.

Semoga festival film yang digelar di era Normal Baru ini bisa membawa kita semua untuk merenung dan melakukan re(dis)covery terkait film, dan, kalau beruntung: menemukan diri sendiri, menemukan kemanusiaan kita sendiri. Mirip dengan pepatah sufistik, yang saya modifikasi: “Barang siapa yang mengenal (kembali) dirinya, niscaya akan mengenal Tuhannya”.

 

Ekky Imanjaya

Dewan Festival

Madani Film Festival